5 Kelebihan Akhwat Yang Dijadikan Senjata Oleh Syaitan Untuk Melemahkan Ikhwan

Minggu, 13 Mei 2012

 Bismillahirrahmanirrahim…

Akhwat adalah sosok yang sangatlah unik. Berbeda. Dan memiliki keistimewaan tersendiri. Islam bahkan memandang akhwat adalah sosok yang sangat spesial dan bahkan memberikan satu surat dalam Al-Quran untuk akhwat. An-Nisa. Rasulullah pun berkata bahwa sosok yang harus kita cintai setelah Allah SWT dan Rasulullah adalah : Ibu, Ibu, Ibu, barulah Ayah. Itu menunjukkan apresiasi yang sangat tinggi yang diberikan oleh islam kepada Akhwat. (Tapi orang barat suka bilang kalo islam itu melecehkan wanita.. Nah lho.. Mereka tidak melihat fakta kali ye… hehehe)

Namun Akhi, Ukhti, akhwat seringkali dibuat sebagai senjata yang Maha Dahsyat oleh Syaitan Laknatullah untuk meluluhkan kehebatan iman seorang ikhwan. Ya, tidak dipungkiri, salah satu jalan utama syaitan untuk merasuk ke dalam dada seorang ikhwan adalah melalui akhwat itu tadi. Dalam sejarah, syaitan mengakui kepada Nabi Musa AS bahwa jalur utama syaitan dalam merasuk dan memperdaya manusia ada 3 : ketika Shalat, ketika marah, dan melalui akhwat.
Kali ini Insya Allah ane akan mengulas hasil rangkuman beberapa ulama mengenai kekuatan akhwat yang dijadikan senjata oleh syaitan untuk meluluhlantakkan hati seorang ikhwan. Tapi maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk memojokkan akhwat dan meninggikan ikhwan. Tapi hanya bermaksud untuk saling mengingatkan. Karena, kalau hanya salah satu antara ikhwan atau akhwat saja yang menjaga hatinya, maka syaitan akan tetap mudah untuk masuk. Tapi khan kalau kita sama-sama menjaga hati, Insya Allah akan lebih baik bagi kita semua. Betul betul betul ?
Karena ingat, ketika syaitan sudah tidak mampu menyesatkan kita dengan keburukan, maka dia akan menyesatkan kita dengan kebaikan. Faham khan? Syaitan tidak akan pernah rela jika kita sebagai manusia mampu melenggang mulus dan melakukan kebaikan tanpa dia ganggu. Naudzubillahi min dzalik.
Lantas apa kekuatan akhwat?

1. Air Mata.
Air mata akhwat adalah sesuatu yang seringkali digunakan syaitan untuk meluluhkan hati seorang ikhwan. Air mata jelas sekali mampu meluluhkan hati seorang ikhwan. Jangankan ikhwan biasa yang masih belajar tentang prinsip-prinsip kehidupan. Seorang Umar bin Khattab RA yang ketika itu masih kafir dan memegang teguh prinsipnya pun diluluhkan oleh tangis adiknya hingga masuk islam dan menjadi salah satu khalifah terkuat pada masa kejayaan islam di dunia. Masih ingat khan kisahnya..?
So, gimana? Buat akhwat, afwan, bisa lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan air mata. Apalagi ketika sudah ada ikhwan yang bukan muhrim, ada di sekitar anti. Apalagi kalau si ikhwannya ada perasaan sama anti. Wah, gawat tuh. Bisa-bisa Syaitan terbahak dan bertepuk tangan karena kelakuan kita itu. Naudzubillahi min dzalik.
Menangis adalah muara dari perasaan. Jikalau terlalu senang, kita bisa menangis. Jikalau terlalu sedih pun demikian. Jikalau sangat marah, kita juga mengeluarkan bulir-bulir air mata. Dan itu semua fitrah. Hanya saja, ketika ada sesuatu yang tidak tepat pada tempatnya, baik tidak disengaja apalagi kalau sengaja, akan menjadi senjata yang kuat bagi syaitan laknatullah.
Buat ikhwan, lebih waspada lagi sama syaitan..! Salah satunya lewat akhwat ini. Coba aja bayangin, kalau ada akhwat memohon sesuatu ke kita, sampe mengeluarkan air mata. Gimana sikap kita? Itu yang harus kita manage dengan sebaik mungkin. Tentu dengan manajemen hati yang tepat.

2. Senyuman.
Senyuman akhwat itu salah satu yang sangat mudah dijadikan oleh syaitan dalam memperdaya ataupun melelehkan hati seorang ikhwan. Apalagi kalau si akhwat yang sudah punya satu fikroh. Tentu akan sangat meluluhkan hati seorang ikhwan.
Lantas bagaimana? Allah telah jelas dan tegas memerintahkan kita dalam surah An-Nur ayat ke 30 hingga ke 31. Ayatnya yang berbunyi : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya…” dan ayat ke 31 juga yang berbunyi “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya….” menunjukkan solusi yang seharusnya kita lakukan bersama. Para ikhwan maupun akhwat sudah selayaknya menjaga pandangan mereka.
Ustadz ane bilang, kalau kita berbicara dengan lawan jenis sebaiknya tidak melihat langsung kepada wajahnya. Lihatlah beberapa senti di sampingnya. Senyum akhwat kalau sudah tertangkap oleh mata seorang ikhwan, weish… Bisa bahaya tuh.

3. Tutur kata
Akhwat itu memiliki jenis suara yang berbeda dengan ikhwan. Jenis suara akhwat itu lebih lembut dan tinggi daripada ikhwan. Kalau ikhwan, lebih nge-bass dan lebih rendah. Ternyata itu juga dijadikan senjata oleh syaitan untuk memperdaya ikhwan. Apalagi kalau si akhwatnya itu juga pakai intonasi yang sengaja di’naik-turun’kan. Memberi nada centil. Wah, udah bahaya itu. Hati ikhwan bisa berdesir mendengarnya.
Lantas bagaimana lagi? Untuk akhwat, berbicaralah yang tegas! Tidak menimbulkan kesan yang manja atau gimanaaa gitu.. (ngerti khan? Hhe..) Berbicaralah dengan retorika yang tegas dan seperlunya saja. Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk berbicara yang benar, atau diam! Benar khan?
Suara akhwat itu sangat dilindungi dan dihargai oleh Islam. Bahkan ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa nasyid akhwat itu tidak baik didengar oleh ikhwan. Karena, getaran suaranya itu besar kemungkinan dapat menimbulkan perasaan yang berbeda di hati ikhwan. Waduhh….
Ikhwan, jangan sok kasih perhatian. Jangan malah memancing akhwat untuk bersuara seperti yang dimaksudkan tadi. Ya, berhati-hatilah dalam mengolah hati. Berhati-hatilah dalam memberikan perhatian.

4. Berhias
Banyak perdebatan di sini. Tapi ternyata berbahaya juga lho. Salah satunya bagi akhwat yang memakai parfum atau wewangian. Rasulullah berkata bahwa barang siapa akhwat (wanita) yang memakai wewangian kemudian dia berjalan di depan seorang ikhwan (laki-laki) sehingga sang ikhwan mencium wewangian tersebut, maka sang akhwat dianggap pezina. Naudzubillahi min dzalik..
Yang masih jadi perdebatan itu tentang celak yang seringkali digunakan akhwat. Apakah itu termasuk berhias yang berlebihan? Menurut ustadz ane sih, katanya yang namanya celak itu pada umumnya pada zaman Rasulullah dipakai untuk ikhwan. Bukan akhwat. Adapun akhwat-akhwat muslimah yang memakai celak itu hanya bagi suami-suami mereka, ketika suami mereka baru pulang dari peperangan atau dari mencari nafkah bagi keluarga. Nah, kalau itu mah beda lagi. Kalau sama suami, Insya Allah halal. Malah jadi pahala bagi sang akhwat. Jadi, celak yang digunakan tersebut kurang pas kalau dipakai sama akhwat-akhwat di luar rumah. Apalagi kalau sengaja berniat berhias diri. Naudzubillahi min dzalik…

5. Kecerdasan
Nah, ini yang paling berbahaya atau paling sulit untuk dihindari. Akhwat yang cerdas seringkali dijadikan senjata yang sangat ampuh untuk meluluhkan hati seorang ikhwan. Seringkali ikhwan tidak melihat paras atau rupa dari si akhwat. Tapi kecerdasannya. Retorika berbicara serta bobot yang dia bicarakan. Apalagi kalau sudah satu fikrah, satu persepsi fikiran yang sama. Makanya, syaitan paling sering memakai kelebihan akhwat yang satu ini.
Jalan keluarnya bagaimana? Untuk keseluruhan, sebenarnya hanya ada dua intinya. Sang ikhwan harus menjaga diri serta hati mereka, dan sang akhwat juga demikian. Ketika diri telah dibersihkan dan hati telah disucikan, Insya Allah tidak syaitan juga akan kelelahan menggoda kita. Jangan lupa fasilitas istigfar yang diciptakan Allah untuk kita semua umat muslim. Selalu beristigfar setiap waktu. Ingat Allah setiap waktu.
Semoga dengan itu kita mampu menghindarkan diri dari godaan syaitan laknatullah. Insya Allah…
Nah, itu dia akhi, ukhti, rangkuman dari pendapat beberapa ulama mengenai akhwat dan ikhwan dan syaitan ketika telah berada di antaranya. Semoga bermanfaat ya..!
(muthia khairunnisa)

Sedih bila kuingat tengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini tak ingin begini
Sobat rangkaian masa yang tlah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini maaf aku begini
Reff :
Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Tak kan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

Apa itu cantik ya ikhwan???


CANTIK itu…………..

Cantik Itu ..
Bukan Ia Yang Memiliki Mata Yang Indah, Melainkan Ia Yang Selalu Menjaga Pandangan Matanya
Cantik Itu ..
Bukan Ia Yang Memiliki Senyum Yang Menawan, Melainkan Ia Selalu Tersenyum Karena Ibadah.
Cantik Itu ..
Bukan Ia Yang Memiliki Bibir Terindah, Melainkan Ia Yang Memiliki Bibir Untuk Slalu Berzikir.
Cantik Itu ..
Bukan Karena Ia Yang Selalu Menggunakan Make Up Yang Mahal Di Wajahnya, Melainkan Ia Yang Selalu Membasuh Wajahnya Dengan Air Wudhu.
Cantik Itu..
Bukan Ia Yang Memiliki Tubuh Yang Indah, Melainkan Ia Yang Selalu Menghijab Tubuhnya Dengan Pakaian-Pakaian Santun.
Cantik Itu ..
Bukan Ia Yag Selalu Menolong, Melainkan Ketulusan Hatinya Saat Ia Menolong.
Cantik Itu ..
Ada Pada Hatimu Yang Tercantik..
Karena Kecantikan Hatimu Akan Memancarkan Cahaya Di Wajahmu ..
Jadikanlah Hatimu Lebih Cantik Dari Wajahmu Wahai Saudariku…
Karena KECANTIKAN ABADI bukan karena bagus RUPA atau PAKAIAN, tapi karena KEELOKKAN ADAB & ILMU..

barakallahufikum…

Kreteria Ikhwan Sejati Idola Akhwat sejati

Rabu, 09 Mei 2012


Paling tidak ada 60 Kriteria Ikhwan(Laki-laki) Idaman (Ideal) menurut Islam yakni Ikhwan mukmin (beriman) yang :
  1. Islam menjadi pedoman hidupnya yang utama (QS.6:153);
  2. Ikhlas menjadi dasar hidupnya (QS.2:207);
  3. Taqwa menjadi bekal hidupnya (QS.2:197);
  4. Taat menjadi karakteristik khasnya (QS.3.132);
  5. Shalat dan sabar merupakan kekuatannya (QS.8:56;32:24);
  6. Tsabat (teguh) merupakan sikap hidupnya (QS.8:45);
  7. Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat hatinya (QS.49:10;43:67);
  8. Tidak mengenal sikap palsu, kamuflase, banyak tingkah dan takabur (QS.25:63);
  9. Ruang jiwanya dipenuhi oleh perhatian dan kepedulian yang besar dan penuh kesungguhan dalam mencapai hadaf (tujuan baik) mereka (QS.28:55);
  10. Detik-detik malamnya amat berharga, diisi dengan ibadah Qiyamul Lail/Muraaqabatullah (QS.25:64 : 17:79. 76:26);
  11. Senantiasa risau dan amat takut akan azab Neraka Jahanam (QS.25:65-66);
  12. Punya ukuran-ukuran yang jelas atas kebenaran dalam kehidupannya (QS.25:67.17:29);
  13. Tidak menyekutukan Allah, dan tidak menantang (menyalahi) perintah Allah (QS.25:68-71);
  14. Tidak menyia-nyiakan hak orang lain dan tidak menzalimi seorangpun (QS.25:72);
  15. Hatinya lurus dan hidup subur, dengan iman yang benar (QS.25:73);
  16. Senantiasa menginginkan kebaikan yang dilakukan menjamah dan berlanjut untuk setiap generasi (QS.25:74-76);
  17. Senantiasa Jujur dalam perkataan dan perbuatan;
  18. Senantiasa menjaga tali silaturrahmi;
  19. Senantiasa menjaga amanah yang diberikan;
  20. Senantiasa menjaga hak tetangga;
  21. Senantiasa memberi kepada yang membutuhkan;
  22. Senantiasa membalas kebaikan orang lain;
  23. Senantiasa memuliakan tamu;
  24. Memiliki sifat malu;
  25. Senantiasa menepati janji;
  26. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi);
  27. Berakhlak baik/mulia kepada sesama makhluk Allah; (Matiinul khuluqi);
  28. Senantiasa Shalat tepat pada waktunya;
  29. Senantiasa memautkan hatinya ke masjid /Cinta Shalat berjamaah di Masjid;
  30. Senantiasa membaca dan mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya;
  31. Sederhana dalam urusan dunia dan paling cinta pada urusan akhirat;
  32. Paling suka melakukan amar ma’ruf nahi munkar;
  33. Paling berhati-hati dengan lidahnya (menjaga lidah);
  34. Senantiasa cinta pada keluarganya;
  35. Paling lambat marahnya;
  36. Senantiasa memperbanyak istighfar, berdzikir dan mengingat Allah swt dan memperbanyak Shalawat Nabi;
  37. Senantiasa suka dan ringan berzakat, infaq dan bersedekah;
  38. Senantiasa menjaga wudhu;
  39. Senantiasa menjaga Shalatnya terutama Shalat wajib;
  40. Senantiasa menjaga Shalat sunnat Tahajjud dan Shalat Dhuha;
  41. Paling cinta dan hormat pada kedua orang tuanya, terutama ibunya;
  42. Cerdas / Pikirannya intelek (Mutsaqoful fikri);
  43. Aqidahnya bersih/lurus (Saliimul ‘aqiidah);
  44. Ibadahnya benar (Shohiihul ‘ibaadah);
  45. Rendah hati (Tawadhu’);
  46. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi);
  47. Mampu mencari nafkah (Qaadirun’alal kasbi);
  48. Senantiasa menjaga dan memelihara lidah/lisan (Hifdzul lisaan);
  49. Senantiasa istiqomah dalam kebenaran (Istiqoomatun filhaqqi);
  50. Senantiasa menundukkan pandangan terhadap lawan jenis dan memelihara kehormatan (Goddhul bashor wahifdzul hurumat);
  51. Senantiasa lemah lembut dan suka memaafkan kesalahan orang lain (Latiifun wahubbul’afwi);
  52. Benar, jujur, berani dan tegas (Al-haq, Al-amanah-wasyaja’ah);
  53. Selalu yakin dalam tindakan yang sesuai ajaran Islam (Mutayaqqinun fil’amal);
  54. Senantiasa pandai memanfaatkan waktu (untuk dunia dan akhirat) (Hariisun’alal waqti);
  55. Sebanyak-banyaknya bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi);
  56. Senantiasa menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun’anisy syubuhat);
  57. Senantiasa berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’);
  58. Senantiasa siap menolong orang yang lemah (Mutanaashirun lighoirihi);
  59. Senantiasa berani bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang memusuhi kita (Asysyidda’u’alal kuffar);
  60. Senantiasa mengingat akan datangnya kematian;
Apakah anda atau suami atau (calon) suami/pasangan Anda telah memenuhi ciri-ciri pria idaman menurut Islam seperti di atas ?

Apabila sudah sebagian maka sempurnakanlah dan pertahankanlah, namun apabila belum senantiasa berusahalah untuk menyempurnakannya, karena memang Tidak ada insan yang sempurna, kecuali Rasulullah
ﷺ , tapi senantiasa berusahalah menjadi yang mendekati kriteria-kriteria tersebut.

Semoga kita semua dan anak keturunan kita senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan oleh Allah swt untuk bisa menjadi insan dan laki-laki yang baik menurut Islam dan bagi akhwat semoga diberi Allah swt atau bagi akhwat (perempuan) dapat diberikan Allah swt pasangan laki-laki mukmin yang baik menurut Islam seperti disebutkan di atas. Amiin